Quote of the Day

more Quotes

Monday, December 29, 2014

Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah suatu karya tulis yang disusun berdasarkan pendekatan dan metoda ilmiah yang ditujukan untuk kelompok pembaca tertentu. Penulisan tersebut disebut ilmiah, karena penulisan tersebut adalah sistematik, generalisasi, eksplanasi, maupun terkontrol. Dengan demikian karya tulis ilmiah tersebut tidak mengandung unsur bias karena telah mempunyai ukuran atau standar tertentu.

Penulisan ilmiah adalah sistematik, karena harus mengikuti prosedur dan langkah tertentu seperti mengidentifikasi masalah, menghubungkan masalah dengan teori tertentu, merumuskan kerangka teoritis/konsepsional, merumuskan hipotesis, menyusun rancangan studi, menentukan pengukurannya, mengumpulkan data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat kesimpulan.

Penulisan ilmiah adalah generalisasi, karena dapat dirumuskan atau diambil suatu kesimpulan umum.

Penulisan ilmiah adalah eksplanasi, karena menjelaskan suatu keadaan atau fenomena tertentu.

Penulisan ilmiah terkontrol, karena pada setiap langkahnya terencana dengan baik, mempunyai standar tertentu, dan kesimpulan disusun berdasarkan hasil analisis data. Aplikasi dari metoda ilmiah tersebut dapat dikatakan sebagai suatu penelitian. Karya tulis ilmiah berupaya mengungkapkan secara jelas dan tepat mengenai masalah yang dikaji, kerangka pemikiran untuk mendekati pemecahan masalah, mengapa dan bagaimana studi dilaksanakan untuk memecahkan masalah, serta pembahasan hasil maupun implikasinya. Karena itu, karya tulis ilmiah harus disusun secara logis dan terinci berupa uraian teoritis maupun uraian empirik.

Menyusun suatu karya tulis ilmiah bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan sederhana. Disamping penulis harus menguasai ketrampilan dan pengetahuan bahasa yang baik dan benar, diperlukan pula pemahaman kaidah penulisan ilmiah serta persyaratannya. Pada masyarakat ilmiah, penamaan karya tulis ilmiah sangat bervariasi, tergantung pada tingkatan, ruang lingkup, maupun kegunaannya. Secara garis besar, ada yang disusun oleh kalangan masyarakat tertentu seperti laporan dan makalah ilmiah, dan ada yang disusun oleh kalangan masyarakat pendidikan untuk maksud kegiatan pendidikan tertentu seperti penulisan ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.


Prinsip Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Menulis suatu karya tulis ilmiah seperti skripsi atau tesis, agak berbeda dengan menyusun suatu karya tulis nonilmiah. Suatu karya tulis ilmiah harus memenuhi dan menggunakan pendekatan atau metoda ilmiah. Ini berarti bahwa karya tulis tersebut merupakan aplikasi dari suatu metoda ilmiah. Karya tulis ilmiah berupaya mengungkapkan masalah yang diteliti, merumuskan kerangka teoritis seperti tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran, serta membahas hasil pengolahan data dan perumusan kesimpulannya.

Pada umumnya, dalam merencanakan suatu penulisan karya tulis ilmiah perlu mencakup beberapa tahapan seperti:
(1) pemilihan masalah penelitian
(2) pengumpulan informasi
(3) pengorganisasian naskah
(4) penulisan naskah.

Tahapan ini sebaiknya dilakukan secara berurutan, walaupun adakalanya dapat dilakukan secara bersamaan.


1. Pemilihan Topik Masalah Penelitian

Pemilihan dan penentuan masalah penelitian merupakan tahap awal dari suatu penulisan karya tulis ilmiah. Pemilihan topik masalah ini sangat menentukan arah kegiatan penulisan karya tulis berikutnya.

a.       Sumber
Langkah awal dari suatu penulisan tesis adalah pemilihan dan penentuan masalah penelitian. Pemilihan masalah ini merupakan langkah yang menentukan arah kegiatan selanjutnya. Namun demikian, pemilihan masalah ini bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana dan mudah.
Masalah penelitian yang akan digunakan oleh penulis dapat bersumber dari:
(1)    penulis sendiri
(2)    orang lain, seperti para ahli, dosen, atau teman anda sendiri
(3)    buku referensi dan bahan bacaan yang telah dibaca oleh penulis. Masalah suatu karya tulis ilmiah, biasanya tidak muncul dan diperoleh begitu saja. Masalah tersebut merupakan perwujudan dari hal atau kejadian yang perlu diungkapkan. Masalah penelitian dapat muncul dari adanya kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan yang terjadi di lapangan berupa fakta, seperti:
(1)    terdapat hilangnya informasi sehingga menimbulkan kesenjangan pada pengetahuan kita
(2)    terdapat hasil yang saling berlawanan dari penerapan teori dengan fakta di lapangan
(3)    terdapat fakta yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Dari salah satu area yang telah dipilih dan yang akan digunakan, perlu dilakukan identifikasi masalah yang lebih spesifik.

b.      Keterbatasan
Suatu topik masalah harus merupakan topik masalah yang baik bagi anda, sehingga anda akan menaruh perhatian dan mempunyai dorongan yang kuat untuk melaksanakan dan menyelesaikan penulisan tersebut hingga selesai. Dalam memilih dan menentukan topik masalah, acapkali kita menemukan beberapa keterbatasan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu:
(1)    Minat, masalah sebaiknya sesuai dengan minat anda. Usahakan agar masalah yang akan dipilih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Masalah yang kurang sesuai dengan minat, akan menghambat konsentrasi dan keseriusan dalam penyelesaian karya tulis ilmiah tersebut
(2)    Mampu dilaksanakan, masalah yang akan dipilih harus bisa dilaksanakan dengan baik, karena penulis harus:
(i)         Mampu menguasai materi dan teori/konsep. Penulis harus mampu menguasai materi atau teori/konsep yang melatarbelakangi masalah tersebut, dan sekaligus menguasai metoda pemecahannya;
(ii)       Mempunyai waktu yang cukup. Peneliti harus dapat memperkirakan penggunaan waktu yang cukup dan tepat untuk menyelesaikan karya tulisnya;
(iii)      Mempunyai tenaga pelaksana yang terlatih dan cukup. Bila diperlukan, penulis harus dapat mempersiapkan tenaga pembantu yang sudah menguasai materi dan terlatih serta jumlah yang memadai;
(iv)     Mempunyai cukup dana. Penulis harus dapat menghimpun dana yang diperlukan;
(3)    Mudah Dilaksanakan, penelitian dapat dilaksanakan karena cukup faktor pendukung seperti:
(i)         data cukup tersedia
(ii)       izin dapat diperoleh dari yang berwenang;
(4)    Mudah Dibuat Afasalah Yang Lebih Luas, masalah yang telah dipilih sebaiknya dapat dikembangkan lagi sehingga dapat disusun rancangan yang lebih kompleks untuk penelitian berikutnya;
(5)    Manfaat, penelitian harus bermanfaat dan dapat digunakan hasilnya oleh orang tertentu atau kelompok masyarakat dalam bidang tertentu dan khusus. Dengan adanya keterbatasan ini, maka anda dihadapkan kepada pemilihan suatu prioritas masalah tertentu yang akan dilakukan. Untuk itu, anda harus mengamati kembali kelima faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan masalah yang sesuai dengan pertimbangan anda. Misalnya, anda akan memilih masalah mengenai menurunnya produktivitas. Menurut pertimbangan dan pengamatan pendahuluan, temyata penyebab utama menurunnya produktivitas adalah motivasi dan manajemen waktu. Kemudian, anda perlu mengadakan pengamatan lebih lanjut, apakah kelima faktor keterbatasan tersebut dapat anda kuasai sesuai dengan kebutuhan anda.


2. Pengumpulan Informasi

Pengumpulan data dan informasi untuk penulisan karya tulis ilmiah adalah merupakan prinsip berikutnya yang perlu dikuasai.

Disini hanya dibahas prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penulisan, yaitu: (a) Evaluasi Instrumen, guna mendapatkan data yang lebih akurat dan konsisten, (b) Evaluasi terhadap Sumber, guna dapat dipertanggung-jawabkan, dan (c) Pembuatan Catatan.

a.       Evaluasi Instrumen
Instrumen adalah alat bantu penelitian untuk mengumpulkan data. Instrumen harus dapat diformulasikan dan disesuaikan dengan setiap teknik pengumpulan data seperti tes, kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi. Karena itu, pengujian terhadap instrumen sangat penting dan mutlak dilaksanakan sebelum instrumen tersebut digunakan untuk pengumpulan data. Anda harus menguji instrumen dan mengetahui hasilnya terlebih dahulu, yaitu dengan pengujian keabsahan (validity) dan pengujian keterandalan (reliability). Hasil pengujian keabsahan ini bermanfaat untuk mengetahui sejauhmana kesesuaian antara konsep yang akan diteliti dengan uraian dan indikator yang digunakan pada instrumen, sedangkan pengujian keterandalan bermanfaat untuk mengetahui sejauhmana tingkat ketepatan (akurasi) dan kemantapan (konsistensi) instrumen tersebut.

b.      Evaluasi Sumber Data
Data yang dikumpulkan dapat berasal dari data primer dan/atau data sekunder. Anda harus bisa menentukan apakah data yang diperlukan untuk penelitian tersebut berasal dari data primer, data sekunder, atau gabungan dari data primer dan data sekunder. Data primer, merupakan data yang langsung dikumpulkan dari sumber data tanpa diolah dan dianalisis terlebih dahulu oleh orang lain, dengan demikian anda sendirilah yang akan mengolah dan menganalisisnya. Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang telah dikumpulkan, diolah, dianalisis dan mungkin juga diinterpretasikan oleh orang lain. Disamping itu, anda perlu mengetahui sejauh mana tingkat objektivitas sumber, seperti kemungkinan terdapatnya bias.

c.       Pembuatan Catatan
Berbagai cara dapat dilakukan untuk memudahkan pencatatan terutama dari data sekunder, misalnya penggunaan kartu untuk mencantumkan kutipan dari pendapat seseorang dan pencarian kembali informasi tersebut. Untuk itu, perlu diketahui mengenai ukuran kartunya, cara penulisannya, dan bentuk informasi/kutipannya.
(1)    Ukuran Kartu Informasi. Sistem kartu ini lazim digunakan dan sangat dianjurkan bagi penulis/peneliti yang masih tingkat pemula. Gunakanlah kertas yang agak tebal (karton manila) dengan ukuran yang bisa anda sesuaikan dengan kebutuhan. Pertama, kartu ukuran kecil (7,5 x 12,5 cm), yaitu bila informasi dan atau kutipan yang diperlukan tidak terlalu banyak diambil dari setiap sumber. Kedua, kartu ukuran sedang (10 x 15 cm), bila anda membutuhkan beberapa informasi dan atau kutipan tambahan dari setiap sumber. Ketiga, kartu ukuran besar (12,5 x 20 cm, atau 14 x 21 cm), bila anda membutuhkan agak banyak informasi dan atau kutipan yang diambil dari setiap sumber data termasuk komentar anda.
(2)    Sistem Penulisan. Sebelum anda menulis catatan berupa kutipan yang diperlukan pada kartu informasi, sebaiknya anda menghubungkan kartu informasi anda terlebih dahulu dengan sumber atau daftar pustaka yang diacu. Cantumkanlah nama penulisnya, judul tulisan, kota penerbit, nama penerbit, tahun terbitan, dan nomor halaman yang diambil, pada bagian atas kartu informasi anda. Demikian pula, cantumkanlah bagian dari penelitian yang berkaitan dengan catatan anda tersebut, setelah itu anda tuliskan informasi dan/atau kutipan yang diperlukan. Penulisan hanya dilakukan pada satu muka saja, tidak bolak balik guna memudahkan pengaturan dalam penyimpanannya sesuai dengan bab atau bagian penulisan anda.
(3)    Bentuk Kutipan. Kutipan yang akan anda catat pada kartu informasi dapat berupa
                                                               i.      Kutipan Langsung, yaitu bila anda mengutip seluruh pendapat atau bagian tulisan berupa kata, kalimat atau alinea. Kutipan langsung ini dapat terdiri atas:
a)      Kutipan Langsung Pendek, yaitu kutipan langsung yang panjangnya tidak melebihi 3 baris, dan kutipan ini dimasukkan pada kalimat penulis, sehingga jarak antara baris adalah tetap  dengan menggunakan huruf miring dan diberi tanda dalam dua tanda kutip untuk membedakan dengan teks tulisan dari penulis sendiri,
b)      Kutipan Langsung Panjang, yaitu kutipan langsung yang panjangnya melebihi 3 baris dan kutipan ini disusun dalam suatu alinea khusus dengan jarak masing-masing baris adalah 1 spasi dengan indensi.
                                                             ii.      Kutipan Tidak Langsung. yaitu bila anda mengutip atau hanya ringkasannya saja terhadap pendapat atau tulisan orang lain dengan menggunakan gaya bahasa dan gaya penyampaian anda sendiri. Kutipan tidak langsung ini dapat terdiri atas:
a)      Kutipan Tidak Langsung Pendek, yaitu kutipan tidak langsung yang panjangnya tidak melebihi 1 alinea,
b)      Kutipan Tidak Langsung Panjang, kutipan tidak langsung yang panjangnya melebihi 1 alinea. Kutipan tidak langsung ini dimasukkan dalam teks tulisan penulis, sehingga jarak antar barisnya adalah tetap 2 spasi.


3. Pengorganisasian Naskah

Penyusunan Naskah. Campbell et.al (1991:18-19) mengungkapkan terdapat beberapa prinsip yang penting untuk menyusun suatu karya tulis diantaranya pola kronologis, perbandingan, spasial, sebab dan akibat, serta analisis. Pola ini biasanya digunakan secara kombinasi, baik digunakan pada setiap alinea (paragraf) atau untuk keseluruhan isi karya tulisnya.

- Pola kronologis menjelaskan setiap langkah harus dilakukan secara bertahap dan beraturan.
- Pola perbandingan menyajikan persamaan dan/atau perbedaan antara dua atau lebih dari dua orang, tempat, benda, keadaan.
- Pola spasial mengungkapkan bentuk fisik atau dimensi geografis dari topik masalah, sehingga dapat mengarahkan pembaca melalui topic yang membahas beberapa lokasi.
- Pola sebab akibat menguraikan kejadian atau kekuatan yang dapat menghasilkan sesuatu, menjelaskan bagaimana sesuatu dapat berubah bila kondisinya berbeda, atau laporan percobaan yang membentuk faktor yang penting dari suatu kejadian.
- Pola analisis adalah suatu proses memerinci suatu subjek menjadi bagian dan dapat mengklasifikasikannya.

Pembabakan Bab dan Bagiannya. Untuk membagi dan mengklasifikasikan isi naskah sangat tergantung pada panjang dan kompleksitas materinya. Campbell et.al (1990:41) mengungkapkan bahwa "Papers under twenty-five pages do not require division of any kind; in fact, dividing a short paper can be distracting rather than helpful." Biasanya, panjang tulisan pada skripsi, tesis dan disertasi melebihi 60 halaman, karena itu pembabakan dan bagiannya sangat diperlukan. Pada karya tulis ilmiah yang panjangnya tidak melebihi 25 halaman, pengorganisasian tulisan dalam bentuk pembabakan dan bagiannya tidak dianjurkan, namun pemhagian yang sederhana untuk membedakan setiap pokok bahasan masih bisa dilakukan. Judul bab harus dinyatakan secara jelas dan tepat, yang menggambarkan isi hab tersebut dan hubungannya dengan karya tulis secara keseluruhan. Bagian bab dapat digunakan untuk membagi bah yang panjang dan beragam isinya. Judul bagian bab dianjurkan sama tingkatannya, dan pembagian ini sangat berbeda untuk setiap bah, tergantung pada logika pokok bahasannya.


4. Penulisan Naskah

Pada umumnya, penulisan karya tulis ilmiah terdiri atas persiapan naskah pertama, revisi naskah, persiapan format, editing akhir, koreksi akhir (proofreading).

a. Naskah Pertama
Bila anda telah mempunyai cukup informasi dan data untuk merumuskan idea dan menyempumakan kerangka pemikiran, sudah tiba saatnya anda mulai menulis naskah pertama berupa konsep (draft). Sebelum anda mulai menulis, aturlah terlebih dahulu catatan atau kartu informasi sesuai dengan urutan topik yang sesuai dengan kerangka pemikiran. Dalam penulisan naskah pertama ini, anda harus memusatkan pada pengembangan idea. Anda bisa memulai tulisan dari awal hingga akhir secara berurutan atau memilih bagian intinya terlebih dahulu dengan mengabaikan pendahuluan dan kesimpulan. Yang manapun anda pilih, mulailah penulisan sesuai dengan saat yang terbaik bagi anda. Untuk memudahkan koreksi nantinya dan perlunya menambahkan informasi lain, persiapkanlah ruangan khusus beberapa spasi secukupnya. Atau, bisa juga anda membuat naskah pertama dalam 2 spasi untuk memudahkan revisi dan koreksi guna penyempumaan pada langkah berikutnya.

b. Revisi
Setelah naskah pertama selesai, lakukanlah pemeriksaan kembali secara menyeluruh materi pada tulisan anda. Hal ini dilakukan dengan menyempurnakan yang kurang jelas dan perbedaan pada rangkaian tulisan, gunakanlah kata yang tepat dan struktur kalimat yang efektif. Sempumakan makna dari setiap alinea. Upayakan agar setiap alinea hanya mengandung satu gagasan atau pokok bahasan. Revisi ini bisa dilakukan beberapa kali sehingga menjadi naskah kedua, ketiga dan seterusnya.

c. Format
Penggunaan format tulisan seringkali saling berbeda. Namun, pada kenyataannya format tersebut mempunyai prinsip yang sama, yaitu: Bagian Pembuka, Bagian lsi, dan Bagian Penutup.

d. Editing
Editing akhir ini mencakup pemeriksaan terhadap masalah dan mengaitkannya dengan seluruh penulisan terutama pada pembahasan dan kesimpulan. Dengan demikian, anda harus mampu menjawab:
1. Apakah pendahuluan telah mampu mempersiapkan pembaca?
2. Apakah setiap kalimat sudah jelas?
3. Apakah setiap alinea mempunyai makna yang jelas dan mempunyai urutan yang baik?
4. Apakah setiap bagian saling mendukung dan tidak saling berlawanan?
5. Apakah secara keseluruhan mudah dibaca dan mampu mengungkapkan alur pembahasan dari suatu ide ke ide berikutnya?

Bila anda merasakan telah mencukupi secara keseluruhan, anda dapat langsung melakukan koreksi akhir.

e. Koreksi Akhir

Pekerjaan koreksi akhir biasanya dilakukan pada hasil cetakan percobaan. Lakukanlah koreksi akhir ini dengan tenang, mulai dari kata, kalimat hingga pengertian dan makna penulisan secara keseluruhan. Apakah masih terdapat kesalahan cetakan, tata bahasa, pemilihan kata, maupun penggunaan struktur kalimat.


Penalaran dalam Karya Tulis Ilmiah

Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.

1. Penalaran Induktif dan Coraknya

Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum. Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:

a.       Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunkan dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:
1)      Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
2)      Berdasarkan pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran.

b.      Analogi
Analogi adalah suatu proses yag bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpulan yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara analogi adalah sebagai berikut:
1)      Dalam riset medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan ditarik kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga akan terjadi pada manusia.
2)      Dr. Maria C. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of California tertarik untuk meneliti pengaruh pil kontrasepsi terhadap pertumbuha cerebral cortex wanita, sebuah bagian otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi sejumlah tikus betina dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil. Hasilnya tikus-tikus itu memperlihatkan pertumbuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan studi itu, Dr. Diamond menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat perkembangan otak penggunanya.
Dalam contoh penelitian tersebut, Dr. Diamond menganalogikan anatomi tikus dengan manusia. Jadi apa yang terjadi pada tikus, akan terjadi pula pada manusia.

c.       Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
Penalaran induktif dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:
1)      Ketika seorang ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang sedang dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung tebal (sebab) adalah pertanda akan turun hujan (akibat).
2)       Seorang petani menanam berbagai jenis pohon dipekarangannya, tanaman tersebut dia sirami, dia rawat dan dia beri pupuk. Anehnya, tanaman itu bukannya semakin segar, melainkan layu bahkan mati. Tanaman yang mati dia cabuti. Ia melihat ternyata akar-akarnya rusak da dipenuhi rayap. Berdasarkan temuannya itu, petani tersebut menyimpulkan bahwa biang keladi rusaknya tanaman (akibat) adalah rayap (sebab).


2. Penalaran Deduktif dan Coraknya

Penalaran deduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu, ditariklah kesimpulan tentang hal-hal khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa khusus itu.
Contoh :
Semua makhluk hidup akan mati
Manusia adalah makhluk hidup
Karena itu, semua manusi akan mati.

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap.
Pertama, generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui dan diakui kebenarannya.
Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.
Penalaran deduktif dapat dilakukan dengan dua cara:

a.       Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.
Dari pengertian di atas, silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.
Contoh:
Premis mayor: Semua cendekiawan adalah pemikir
Premis minor: Habibie adalah cendekiawan
Kesimpulan: Jadi, Habibie adalah pemikir.

b.      Entinem
Entinem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Contoh:
Berangkat dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis mayor: Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang
sedang kesusahan
Premis minor: Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan: Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yang
kesusahan.

Kalau proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi ”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang kesusahan.”B. Hubungan Menulis Karya Ilmiah dengan Penalaran


Sumber dan Referensi: Seri diktat kuliah Universitas Gunadarma, Tri Wahyu R. N., 2006

2 comments:

AmandaCarl said...

Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online
SITUS GAME KARTU ONLINE EKSKLUSIF UNTUK PARA BOS-BOS
Kami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
dengan kemungkinan menang sangat besar.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
• AduQ
• BandarQ
• Capsa
• Domino99
• Poker
• Bandarpoker.
• Sakong
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• FaceBook : @Taipanqq.info
• No Hp : +62 813 8217 0873
• BB : D60E4A61
Come & Join Us!!

AmandaCarl said...

Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online
SITUS JUDI KARTU ONLINE EKSKLUSIF UNTUK PARA BOS-BOS
Kami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
dengan kemungkinan menang sangat besar.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
• AduQ
• BandarQ
• Capsa
• Domino99
• Poker
• Bandarpoker
• Sakong
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• FaceBook : @TaipanQQinfo
• WA :+62 813 8217 0873
• BB : D60E4A61
Come & Join Us!!

Post a Comment